Featured

Kecurangan

suatu ketika kamu pernah memohon kepadaku agar semuanya tidak lepas. kamu pernah berjanji akan selalu menjaga setelah kamu menghancurkan dan mengecewakan kesepakatan yang pernah kita buat. kamu selalu saja meminta permohonan berkali-kali agar hatiku baik dan balik lagi kepadamu. agar semua yang sudah kamu rusak bisa tetap menerimamu lagi. kamu memohon kepadaku ingin memulai kembali. melupakan semua yang telah kamu lakukan bagaikan hutan yang hangus terbakar. semua hal-hal yang berserakan tidak beraturan, dan segala bentuk kekacauan yang pernah kamu ciptakan sendiri.

aku mencoba mendamaikan diri ini. aku tenangkan juga kepala ini. aku biarkan bisikan-bisikan bodoh yang selalu saja meneriakiku. demi kamu, iya kamu. aku tata dan aku bereskan semua yang pernah begitu hancur sehancurnya dan patah sepatahnya. aku mencoba berjalan dengan pelan diri ini agar bisa kembali percaya kepadamu. aku terima permohonan yang kamu ajukan kepadaku dengan bisikan-bisikan lembut; aku mohon jangan melakukan dan mengulangi semua itu lagi.

sungguh sangat sungguh, meski remukan itu tidak pernah benar-benar kembali padaku ke bentuk semula. aku mencoba menata ulang bahan demi bahan cerita. aku tukarkan kekecewaan ini dengan kepercayaan yang tumbuh dikit demi sedikit. aku yakinkan diri ini. karena kamu sudah memohon kepadaku. dan sebagai manusia kamu tidak akan mengkhianati dirimu sendiri. kamu sudah berjanji pada dirimu sendiri untuk tidak lagi membakar lagi hutan itu, tidak menghanguskan lagi harapan itu, kamu berjanji akan selalu merawat janji itu dan akan menepati segala hal yang kamu urai sendiri.

tapi nyatanya, kamu memang tidak layak untuk diajak berjuang. pada akhirnya, kamu ulang kembali segala sedih dan sakit itu, tidak pernah sudah kamu menciptakan perih itu. dan, aku hanya bisa berdiam diri menerima kenyataan yang sudah kamu perbuat kembali. kamu memang bukan manusia. kamu hanya tubuh yang ditempati sisa-sisa kecurangan yang tidak akan pernah ada habisnya.

Advertisements

Kamu itu Indah

Aku berbahagia untukmu,

Sungguh…

Inginnya hatiku adalah menjadikanmu rumah atau aku yang akan menjadi tempatmu untuk pulang.

Tapi apa yang bisa kita paksakan?

Perbedaan itu indah sekali, sama sepertimu yang akan selalu indah di pandangan mataku.

Aku simpan ya, aku simpan kamu di dalamku.

Bukan untuk menjadi penghambat untuk rasa melupa.

Tidak, aku tidak butuh melupakanmu.

Biar aku simpan..

Kelak, akan menjadi senyum kala mengingatmu.

Kamu itu indah..

Dari aku yang tidak pernah memilih untuk berada dalam kotak yang berbeda denganmu.

Air Mata

Bolehkah aku untuk menangis?

Agar hatiku bisa bernapas lega.

Aku hanya ingin menyembuhkan lukaku.

Bukan menjadi sosok yang lemah hanya karena berani untuk meneteskan “air mata” demi dia.

Hanya saja, hatiku lagi-lagi dibuat bingung tidak karuan oleh sikap dan sifatnya kepadaku.

Hatiku hanya berkata,

“jika dia benar-benar mencintaiku, harusnya dia menjaga perasaanku kan? Atau hanya aku yang salah dalam mengartikan segala sifat dan sikapnya kepadaku?”

“kenapa dia selalu saja ada di saat aku butuh? Kenapa aku selalu saja merasa dia memberiku tempat yang spesial dihatinya?”

Aku tau, perjalananku masih panjang.

Tetapi, apakah aku boleh berhenti sejenak dari segala pemikiran yang aku anggap “spesial” itu dihatinya?

Aku hanya ingin beristirahat dan menyembuhkan lukaku.

lalu meneteskan “air mata”.

Karena, jika aku melanjutkannya lagi.

Aku hanya takut akan merasakan sakit yang lebih dalam dari ini.

Melangkah

Satu dua cerita ditukar.

Tiga empat kata dicipta,

Lima enam rasa dimaklumi.

Kini, kita tengah berada di persimpangan.

Tempat semua tanya bermuara,

Tempat semua harap berakhir amarah.

Luka pernah jadi satu-satunya alasan.

Tangis pernah jadi juara semua penyebab.

Serta tawa, pernah jadi alasan untuk pergi.

Hingga kemudian kita melemah,

Mencari celah untuk istirahat dari semua yang ada.

Lalu sampailah sebuah berita,

Melangkah dan berserah,

Katanya jadi hal terakhir asa yang digantung.

Bunga Mawar

pada suatu malam, ada seekor burung yang sedang terbang di atas sebuah kebun bunga. kemudian dia melihat satu tangkai bunga mawar putih yang begitu indah. hingga akhirnya dia pun jatuh cinta dengan bunga mawar putih itu.

burung tersebut berusaha keras untuk mengungkapkan perasaan cintanya. namun sayang, sang mawar putih menanggapi usaha burung itu dengan ucapan yang menyakitkan.

kata mawar itu, sampai kapan pun ia tidak akan pernah jatuh cinta dengan burung. tapi, burung itu tidak pantang menyerah. dia kemudian membuktikan ucapannya dengan memotong sayapnya.

lalu ia menebarkan darah yang keluar dari sayapnya pada kelopak bunga mawar putih itu. dari situlah si mawar putih sadar bahwa burung itu begitu mencintainya. namun sayang, ia sadar justru saat burung itu sudah tidak lagi hidup karena kehabisan darah.

dari darah itulah yang menjadikan bunga mawar putih lalu berubah menjadi merah.

kadang, kita memang terlambat menyadari seseorang begitu mencintai kita ketika orang itu sudah pergi.

mawar putih itu salah satu contohnya. sebetulnya dia juga tertarik dengan si burung itu, tapi mawar putih itu sadar betul bahwa sampai kapan pun mereka tidak akan bisa bersama.

hingga akhirnya dia memilih untuk berkata seperti itu agar si burung menyerah dan meninggalkannya. beberapa pendapat bilang, lebih mudah meninggalkan daripada ditinggalkan.

Tuhan pun Berteriak..

Tuhan selalu saja menamparku dengan kesakitan. Kemudian, dari tamparan tersebut aku tersadar bahwa dunia adalah suatu kenyataan yang harus aku jalani.

Mimpiku akan selalu tetap dalam tidurku.

Harapanku hanyalah menjadi doa yang mendampingi disampingnya.

Tuhan pun berteriak di dalam hatiku.

Karena telingaku sudah tuli untuk mendengar nasihat dari manusia.